BETAWI
Sejarah Betawi diawali pada masa zaman batu yang menurut Sejarawan
Sagiman MD sudah ada sejak zaman neolitikum. Sementara Yahya Andi
Saputra (Alumni Fakultas Sejarah UI), berpendapat bahwa penduduk asli
Betawi adalah penduduk Nusa Jawa. Menurutnya, dahulu kala penduduk di
Nusa Jawa merupakan satu kesatuan budaya. Bahasa, kesenian, dan adat
kepercayaan mereka sama. Dia menyebutkan berbagai sebab yang kemudian
menjadikan mereka sebagai suku bangsa sendiri-sendiri.
- Pertama, munculnya kerajaan-kerajaan di zaman sejarah.
- Kedua, kedatangan penduduk dari luar Nusa Jawa.
- Terakhir, perkembangan kemajuan ekonomi daerah masing-masing.
Penduduk asli Betawi berbahasa Kawi (Jawa kuno). Di antara penduduk
juga mengenal huruf hanakacara (abjad bahasa Jawa dan Sunda). Jadi,
penduduk asli Betawi telah berdiam di Jakarta dan sekitarnya sejak zaman
dahulu . Menurut Etimoogi kata dari Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dengan menggunakan bahasa Melayu kreol juga kebudayaan Melayu.
Mengenai asal mula kata Betawi, menurut para ahli dan sejarawan ada beberapa acuan diantaranya :
- Pitawi (Bahasa Melayu Polynesia Purba) yang artinya larangan.
Perkataan ini mengacu pada komplek bangunan yang dihormati di Batu Jaya.
Sejarahwan Ridwan Saidi mengaitkan bahwa Kompleks Bangunan di Batu
Jaya, Karawang merupakan sebuah Kota Suci yang tertutup, sementara
Karawang, merupakan Kota yang terbuka.
- Betawi (Bahasa Melayu Brunei) di mana kata "Betawi" digunakan untuk
menyebut giwang. Nama ini mengacu pada ekskavasi di Babelan, Kabupaten
Bekasi, yang banyak ditemukan giwang dari abad ke-11 M.
- Flora guling Betawi (cassia glauca), famili papilionaceae yang
merupakan jenis tanaman perdu yang kayunya bulat seperti guling dan
mudah diraut serta kokoh. Dahulu kala jenis batang pohon Betawi banyak
digunakan untuk pembuatan gagang senjata keris atau gagang pisau.
Tanaman guling Betawi banyak tumbuh di Nusa Kelapa dan beberapa daerah
di pulau Jawa dan Kalimantan. Sementara di Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat, guling Betawi disebut Kayu Bekawi. Ada perbedaan pengucapan kata
"Betawi" dan "Bekawi" pada penggunaan kosakata "k" dan "t" antara Kapuas
Hulu dan Betawi Melayu, dan ini biasa terjadi dalam bahasa Melayu,
seperti kata tanya apakah atau apatah yang memiliki persamaan makna atau
arti.
Kemungkinan nama Betawi yang berasal dari jenis tanaman pepohonan ada
kemungkinan benar. Menurut Sejarahwan Ridwan Saidi Pasalnya, beberapa
nama jenis flora selama ini memang digunakan pada pemberian nama tempat
atau daerah yang ada di Jakarta, seperti Gambir, Krekot, Bintaro, Grogol
dan banyak lagi. "Seperti Kecamatan Makasar, nama ini tak ada
hubungannya dengan orang Makassar, melainkan diambil dari jenis
rerumputan" Sehinga Kata "Betawi" bukanlah berasal dari kata "Batavia" yang nama lama dari Kota Jakarta pada masa Hindia Belanda. Dikarenakan nama Batavia lebih merujuk kepada wilayah asal nenek moyang orang Belanda
| “ |
“Batavia is the Latin name
for the land of the Batavians during Roman times. This was roughly the
area around the city of Nijmegen, Netherlands, within the Roman Empire.
The remainder of this land is nowadays known as Betuwe. During the
Renaissance, Dutch historians tried to promote these Batavians to the
status of "forefathers" of the Dutch people. They started to call
themselves Batavians, later resulting in the Batavian Republic, and took
the name "Batavia" to their colonies such as the Dutch East Indies,
where they renamed the city of Jayakarta to become Batavia from 1619
until about 1942, when its name was changed to Djakarta (this is the
short for the former name Jayakarta, later respelt Jakarta; see: History
of Jakarta). The name was also used in Suriname, where they founded
Batavia, Suriname, and in the United States where they founded the city
and the town of Batavia, New York. This name spread further west in the
United States to such places as Batavia, Illinois, near Chicago, and
Batavia, Ohio.”. |
” |
Batavia merupakan nama Latin dari tanah Batavia pada zaman Romawi.
Perkiraan kasarnya berada sekitar kota Nijmegen, Belanda, dalam
Kekaisaran Romawi. Sisa lahan yang kini dikenal sebagai Betuwe. Selama
Renaisans, sejarawan Belanda mencoba untuk mempromosikan Batavia menjadi
sebuah status "nenek moyang" dari orang-orang Belanda. Kemudian mereka
mulai menyebut diri Orang-orang atau penduduk Batavia, kemudian hal
tersebut mengakibatkan munculnya Republik Batavia, dan mengambil nama
"Batavia" untuk koloni mereka seperti Hindia Belanda, dimana mereka
mengganti nama menjadi dari Kota Jayakarta menjadi Batavia dari 1619
sampai sekitar 1942, ketika namanya diubah menjadi Djakarta ( nama pendek dari nama Jayakarta, kemudian dirubah kembali dalam ejaan nya
menjadi Jakarta ). Nama Batavia juga digunakan di Suriname yang di
mana mereka mendirikan Batavia, Suriname di Amerika Serikat yang di mana mereka mendirikan kota Batavia,
New York. Nama ini menyebar lebih jauh ke barat di Amerika Serikat
untuk tempat-tempat seperti Batavia, Illinois, dekat Chicago, dan
Batavia, Ohio. Kemudian penggunaan kata Betawi sebagai suatu suku yang pada masa hindia belanda, diawali dengan pendirian sebuah organisasi yang bernama Perkoempoelan Kaoem Betawi yang lahir pada tahun 1923.
SUKU BETAWI
Menurut pembagian priodenya saya bagi menjadi Awal dan Kolonialisasi Eropa sebagai berikut:
Periode Awal
Abad ke-2
Pada abad ke-2, Menurtut Yahya Andi Saputra Jakarta dan sekitarnya
termasuk wilayah kekuasaan Salakanagara atau Holoan yang terletak di
kaki Gunung Salak, Bogor. Penduduk asli Betawi adalah rakyat kerajaan
Salakanagara. Pada zaman itu perda gangan dengan Cina telah maju.
Bahkan, pada tahun 432 Salakanagara telah mengirim utusan dagang ke
Cina.
Abad ke-5
Pada akhir abad ke-5 berdirinya kerajaan Hindu Tarumanagara di tepi kali
Citarum. Menurut Yahya, ada anganggapan Tarumanagara merupakan
kelanjutan dari kerajaan Salakanagara. Hanya saja ibukota kerajaan
dipindahkan dari kaki gunung Salak ke tepi kali Citarum. Penduduk asli dari
Betawi menjadi rakyat kerajaan Tarumanagara. Tepatnya letak dari ibukota
kerajaan berada di tepi sungai Candrabagha, yang oleh Poerbatjaraka
diidentifikasi sebagai sungai Bekasi. Candra berarti Bulan atau Sasi,
jadi ucapan lengkapnya Bhagasasi atau Bekasi, yang terletak di sebelah
timur pinggiran Jakarta. Di sinilah, menurut perkiraan Poerbatjaraka,
letak istana kerajaan Tarumanengara yang termashur itu. Raja Hindu ini
ternyata seorang ahli pengairan. Raja mendirikan bendungan di tepi kali
Bekasi dan Kalimati. Maka sejak saat itu rakyat Tarumanagara mengenal
persawahan menetap. Pada zaman Tarumagara kesenian mulai berkembang.
Petani Betawi membuat orang -orangan sawah untuk mengusir burung.
Orang-orangan ini diberi baju dan bertopi, yang hingga kini ma sih dapat
kita saksikan di sawah-sawah menjelang panen. Petani Betawi menyanyikan
lagu sambil mengge rak-gerakkan tangan orang-orangan sawah itu. Jika
panen tiba petani bergembira. Sawah subur
karena diyakini Dewi Sri
menyayangi mereka. Dewi Sri, menurut Mitologi Hindu, adalah Dewi
kemakmuran.Pendu duk mengarak barongan yang dinamakan ondel-ondel untuk
menyatakan merdeka punya kagoembiraan. Ondel-ondel pun diarak dengan dibunyikannya gamelan.para Nelayan bergembira menyambut panen laut. dengan Ikan
segar yang merupakan hasil rezeki yang mereka dapatkan dari laut. Karena itu mereka
mengadakan upacara Nyadran. Ratusan perahu nelayan melaut mengarak
kepala kerbau yang dilarungkan ke lautan.
Abad ke-7
Pada abad ke-7 Kerajaan Tarumanagara ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya
yang beragama Budha. Di zaman kekuasaan Sriwijaya berdatangan penduduk
Melayu dari Sumatera. Mereka mendirikan pemukiman di pesi sir Jakarta.
Kemudian bahasa Melayu menggantikan kedudukan bahasa Kawi sebagai bahasa
pergaulan. Ini disebabkan terjadinya perkawinan antara penduduk asli
dengan pendatang Melayu. Bahasa Melayu mula-mula hanya dipakai di daerah
pesisir saja. Kemudian meluas sehingga ke daerah kaki Gunung Salak dan
Gu nung Gede. Bagi masyarakat Betawi keluarga punya arti penting.
Kehidupan berkeluarga dipandang suci. Anggota keluarga wajib menjunjung
tinggi martabat keluarga. Dalam keluarga Betawi
Ayah disebut babe ada juga yang menyebutkan baba, mba, abi atau abah yang dipengaruhi oleh
para pendatang dari Hadra maut.
Ibu disebut mak dan banyak juga yang menyebut nyak atau umih.
Anak pertama diberikan nama anak
bongsor dan anak bungsu dinamai anak bontot.
Abad ke-10
Pada sekitar abad ke-10. Saat terjadi persaingan antara wong Melayu
yaitu Kerajaan Sriwijaya dengan wong Jawa yang tak lain adalah Kerajaan
Kediri. Persaingan ini kemudian menjadi perang dan membawa Cina ikut
campur sebagai penengah karena perniagaan mereka terganggu. Perdamaian
tercapai, kendali lautan dibagi dua, sebelah Barat mulai dari Cimanuk
dikendalikan Sriwijaya, sebelah timur mulai dari Kediri dikendalikan
Kediri. Artinya pelabuhan Kalapa termasuk kendali Sriwijaya. Sriwijaya kemudian meminta mitranya yaitu Syailendra di Jawa Tengah
untuk membantu mengawasi perairan teritorial Sriwijaya di Jawa bagian
barat. Tetapi ternyata Syailendara abai maka Sriwijaya mendatangkan
migran suku Melayu Kalimantan bagian barat ke Kalapa. Pada periode
itulah terjadi persebaran bahasa Melayu di Kerajaan Kalapa yang pada
gilirannya – karena gelombang imigrasi itu lebih besar ketimbang pemukin
awal – bahasa Melayu yang mereka bawa mengalahkan bahasa Sunda Kawi
sebagai lingua franca di Kerajaan Kalapa. Sejarahwan Ridwan Saidi
mencontohkan, orang “pulo”, yaitu orang yang berdiam di Kepulauan
Seribu, menyebut musim di mana angin bertiup sangat kencang dan
membahayakan nelayan dengan “musim barat” (bahasa Melayu), bukan “musim
kulon” (bahasa Sunda), orang-orang di desa pinggiran Jakarta mengatakan
“milir”, “ke hilir” dan “orang hilir” (bahasa Melayu Kalimantan bagian
barat) untuk mengatakan “ke kota” dan “orang kota”.
Periode Kolonialisasi Eropa
Abad ke-16
Perjanjian antara Surawisesa raja dari kerajaan Pajajaran dengan bangsa
Portugis ditahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu
komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara
penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran
Portugis. Dari komunitas ini lahir musik Keroncong atau dikenal sebagai
Keroncong Tugu. Setelah VOC
menjadikan Batavia sebagai pusat kegiatan niaganya, Belanda memerlukan
banyak tenaga kerja untuk membuka lahan pertanian dan membangun roda
perekonomian kota ini. Ketika itu VOC banyak membeli budak dari penguasa
Bali, karena saat itu di Bali masih berlangsung praktik perbudakan.
Itulah penyebab masih tersisanya kosa kata dan tata bahasa Bali dalam
bahasa Betawi kini. Kemajuan perdagangan Batavia menarik berbagai suku
bangsa dari penjuru Nusantara hingga Tiongkok, Arab dan India untuk
bekerja di kota ini. Pengaruh suku bangsa pendatang asing tampak jelas
dalam busana pengantin Betawi yang banyak dipengaruhi unsur Arab dan
Tiongkok. Berbagai nama tempat di Jakarta juga menyisakan petunjuk
sejarah mengenai datangnya berbagai suku bangsa ke Batavia, Kampung
Melayu, Kampung Bali, Kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar dan
Kampung Bugis. Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota.
Abad ke-20
Pada zaman kolonial Belanda tahun 1930,
kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul
sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang
Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.menurut Uka Tjandarasasmita penduduk asli Jakarta telah ada sejak 3500-3000 tahun sebelum masehi.menurut Antropolog Universitas Indonesia, Prof Dr Parsudi Suparlan
menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan
kelompok etnis belum mengakar. dalam pergaulan sehari-hari,
mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas pada tempat tinggal
mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong dan pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis
dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang luas,
yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu segenap orang Betawi sadar bahwa mereka merupakan sebuah golongan, ialah golongan orang Betawi. ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup
masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda
tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut
masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut
juga sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umumnya digunakan di Sumatera dan kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.
Dalam majalah Indonesia terbitan April 1967 Cornell University,
Amerika, Lance Castles dalam penelitiannya menyangkut asal-usul
orang Betawi.dari hasil penelitian berjudul “ The Ethnic Profile of
Jakarta ” menyebutkan bahwa orang Betawi terbentuk pada sekitar
pertengahan abad 19 sebagai hasil proses peleburan dari berbagai
kelompok etnis yang menjadi budak di Batavia.
Secara singkat sketsa sejarah terjadinya orang Betawi menurut Castles dapat ditelusuri dari :
- Daghregister, yaitu catatan harian tahun 1673 yang dibuat Belanda yang berdiam di dalam kota benteng Batavia.
- Catatan Thomas Stanford Raffles dalam History of Java pada tahun 1815.
- Catatan penduduk pada Encyclopaedia van Nederlandsch Indie tahun 1893
- Sensus penduduk yang dibuat pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930.
Dari klasifikasi penduduk dalam keempat catatan itu relatif
sama, maka tiga-tiganya dapat diperbandingkan satu sama lain, untuk memberikan gambaran
perubahan komposisi etnis di Jakarta sejak awal abad 19 hingga awal abad
20. Sebagai hasil rekonstruksi, angka-angka tersebut mungkin tidaklah
mencerminkan situasi yang sebenarnya, namun menurut Castles hanya itulah
data sejarah yang tersedia yang relatif meyakinkan walaupun hasil
kajian yang dilakukan Lance Castles mendapatkan banyak tentangan dan kritikan karena
hanya menitik beratkan kepada skesta dari sejarah yang baru ditulis pada tahun
1673.
mengikuti kajian Lance Castles, Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA melalui pemikiran dan kajiannya, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. perkiraan ini didasarkan atas studi Sejarah Demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle.
Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang
dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dari data sensus
penduduk Jakarta ditahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai jenis golongan etnis, namun tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilang sejumlah golongan etnis dari sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Bali, Jawa, Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Balanda, juga orang Melayu. kemungkinan semua suku bangsa di Nusantara dan Arab
Moor ini dikategorikan ke dalam kesatuan penduduk pribumi ( Belanda:
inlander ) di Batavia yang kemudian terserap ke dalam kelompok etnis Betawi.
Sepuluh tahun setelah pengumuman hasil penelitian Lance Castles yakni
pada tahun 1977 arkeolog Uka Tjandarasasmita mengemukakan monografinya
"Jakarta Raya dan Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan
Pajajaran ( 1977 )". Uka memang tidak menyebut monografinya untuk
menangkis tesis Castles, tetapi secara arkeologis telah memberikan
bukti-bukti yang kuat dan ilmiah tentang sejarah penghuni Jakarta dan
sekitarnya dari masa sebelum Tarumanagara di abad 5.dikemukakan lah bahwa paling tidak sejak zaman neolitikhum atau batu baru
( 3500 – 3000 tahun yang lalu ) daerah Jakarta dan sekitarnya dimana
terdapat aliran-aliran sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali
Bekasi, Citarum pada tempat-tempat tertentu sudah didiami oleh kelompok masyarakat. ada Beberapa tempat yang diyakini bahwa berpenghuni diantara lain Cengkareng, Sunter, Cilincing, Kebon Sirih,
Tanah Abang, Rawa Belong, Sukabumi, Kebon Nanas, Jatinegara, Cawang,
Cililitan, Kramat Jati, Condet, Pasar Minggu, Pondok Gede, Tanjung
Barat, Lenteng Agung, Kelapa Dua, Cipete, Pasar Jumat, Karang Tengah,
Ciputat, Pondok Cabe, Cipayung, dan Serpong. Jadi menyebar hampir di
seluruh wilayah Jakarta. dari alat-alat yang ditemukan pada situs-situs, seperti kapak,
beliung, pahat, pacul yang sudah diumpam halus dan memakai gagang dari
kayu, disimpulkan bahwa masyarakat manusia itu sudah mengenal pertanian
( semacam perladangan ) dan peternakan. bahkan mungkin telah
mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang sudah teratur. setelah kemerdekaan (1945), Jakarta telah dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi dalam
arti apapun juga tinggal sebagai minoritas. pada tahun 1961, suku Betawi mencakup kurang lebih lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta
penduduk di Jakarta pada waktu itu. mereka semakin terdesak ke pinggiran,
bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. melalui proses Asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus
berlangsung dan melalui proses panjang pulalah salah satu caranya Suku Betawi hadir di bumi Nusantara kita.
hukuman cambuk bagi budak
Peta jalur perbudakan