Tampilkan postingan dengan label Christmas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Christmas. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 April 2013

Seberapa kenalkah kamu akan Tuhanmu


       Galilea pada zaman Yesus tidaklah besar dan terkenal. Galilea tidak pernah diperhitungkan, baik dalam hal politik maupun dalam hal agama. Tidak ada nabi kaliber nasional  lahir di sana tetapi orang Galilea pada zaman Yesus adalah orang yang paling terbuka terhadap pikiran-pikiran yang baru serta tidak segan terhadap pembaharuan-pembaharuan. Ciri khas orang Galilea inilah yang juga membuat Injil Yesus Kristus mudah diterima.

 Image
        Matius  mencoba memaparkan apa  sarat dengan muatan perintah perintah Tuhan Yesus kepada murid-murid untuk segera dilaksanakan. Namun, sebelum para murid terlibat dalam pelaksanaan perintah tersebut, ada hal lain yang ingin Matius paparkan dimana keadaan iman para murid. tampak dari reaksi mereka ketika melihat Yesus yang bangkit. Ada yang langsung menyembah-Nya tetapi ada juga yang meragukan-Nya. Keraguan ini mungkin diakibatkan oleh karena tidak semua mengalami perjumpaan dengan Yesus setelah peristiwa kebangkitan itu. Matius mencoba memaparkan pemahaman tentang Perintah Tuhan Yesus yaitu dimensi pemuridan dan dimensi pengajaran. yang berarti   "Pemuridan Kristen bukanlah sekadar “memindahkan seseorang dari neraka panasnya api neraka ke surga yang sejuk dan enak, berumput hijau, berair tenang nan nyaman cemerlang,” tapi lebih dari pada itu pemuridan Kristen bertujuan membentuk suatu umat Allah yang kudus dan taat dan setia mewartakan kepada dunia bahwa Yesus adalah Raja dan bahwa segala makhluk harus taat kepada-Nya , pengajaran Kristen ialah untuk membuat perubahan pada hidup orang lain di setiap aspek kehidupan mereka akan terus memancarkan realitas tunggal bahwa Yesus Kristus adalah Raja "  Dimana yang ditekankan bukan pada berapa banyak orang yang berhasil kita tobatkan (kuantitas), tetapi seberapa jauh sejumlah orang itu melakukan ajaran Tuhan dengan konsekuen (kualitas iman) sebab Tuhan Yesus mau membentuk suatu “komunitas baru” yang hidup selalu sesuai dengan perintah-perintah Tuhan dan yang mampu mewujud nyatakan prototip Kerajaan Allah.
  • Yesus mengetahui keadaan hati para pelaksana perintah-Nya
Para murid berangkat ke Galilea, ke sebuah bukit yang ditunjukkan oleh malaikat (Matius 28:7) dan oleh Yesus sendiri (Matius 26:32, 28:10). Ketika Yesus menjumpai mereka, ada di antaranya yang menyembah dan meragukan-Nya. Apakah benar bahwa pribadi yang berada di hadapan mereka itu adalah Yesus yang bangkit ? Matius tidak menyebutkan nama, siapa yang menyembah dan siapa yang masih meragukan kebangkitan-Nya. Matius memaparkan kepada pembacanya tentang kenyataan bahwa ada murid Yesus Kristus yang masih meragukan-Nya (Matius 28:17). Mereka semua adalah murid-murid yang telah bergaul sekian lamanya dengan Yesus. Mereka dengan telinganya sendiri mendengar kata-kata Yesus bahwa Ia akan bangkit. Namun ada di antara mereka yang masih ragu-ragu. Yesus tahu tentang keadaan tersebut. Artinya, Yesus tahu hati setiap orang, baik mereka yang percaya sungguh bahwa diri-Nya telah bangkit dari kematian dan menang atas maut, maupun mereka yang meragukan-Nya.
  • Yesus membereskan sikap yang salah terhadap diri-Nya
Keraguan manusia tidak menjadi penghalang bagi Yesus untuk memberikan perintah kepada para murid. karenanya sebelum “Amanat Agung” diberikan kepada mereka, Yesus terlebih dahulu membereskan keraguan beberapa orang di antara mereka. Memang setiap orang yang mau dan sedang terlibat dalam pelayanan, dalam pekerjaan Allah, haruslah orang yang telah memiliki persekutuan dan hubungan yang tulus suci dengan Yesus Kristus. Hal ini berarti, tidak ada seorangpun yang dapat terlibat sebagai perpanjangan tangan Yesus Kristus untuk menyatakan amanat agung-Nya bila orang tersebut tidak memiliki hubungan yang kental, indah dan mesra dengan Tuhan Yesus Kristus.
Disini Matius memaparkan tindakan Yesus sebelumnya untuk membereskan keraguan hati di antara para murid tentang keberadaan diri-Nya. Yesus menyebut kuasa apa yang ada di dalam diri-Nya, yaitu segala kuasa di sorga dan di bumi. Tujuan-Nya adalah agar nantinya para murid keluar dengan dasar komitmen yang sama bahwa Yesus Kristus yang mereka imani adalah Tuhan yang berotoritas atas maut, alam semesta, bahkan sejarah manusia. Dengan demikian tanggung jawab untuk melaksanakan Amanat Agung itu dapat terwujud. Para murid memikul tanggung jawab yang besar dalam pelaksanaan Amanat Agung ini, tetapi mereka tidak sendiri dalam pelaksanaannnya, karena penyertaaan Yesus terhadap mereka takkan berkesudahan.

Peran yang sekarang kita jalani sebagai orang kristen adalah peran para murid. Dimana sebagai murid-murid Kristus di zaman ini, kita mempunyai panggilan yang lebih unggul dari pada hanya menekankan jumlah, panggilan Kristus yang masih sama sampai sekarang adalah menjadikan semua orang muridNya. Tujuan dari kesaksian tidak hanya pertobatan pribadi saja, tapi juga pembentukan suatu komunitas baru yang terdiri dari orang-orang yang mengalami transformasi yang dilengkapi dengan bela-rasa, kebaikan, rendah hati, lemah lembut dan sabar. Inilah tanda-tanda dari komunitas Kristen sejati. Kalau orang-orang luar melihat tanda-tanda ini dalam komunitas tersebut, pasti mereka akan tertarik padanya dan akan mau bergabung dan menjadi bagian dari komunitas tersebut.

Firman diambil dari : Matius 28:16-20,Markus 16,Lukas 24,Kis para rasul 1
Tuhan Yesus Berada Dibukit yang Di Galelea

Kamis, 28 Februari 2013

TELADAN

Iman menghasilkan iman. Rasa pesimis menghasilkan ketidak percayaan. Tanggung jawab utama seorang pemimpin rohani adalah membina iman rekan-rekannya.

Salah satu contoh paling menonjol dalam Alkitab mengenai kepemimpinan yang berpengaruh dan berwibawa, kita lihat dalam kehidupan Nehemia. Kadang-kadang caranya kelihatan agak keras, tetapi ia dipakai Allah untuk mengadakan pembaharuan yang menakjubkan dalam kehidupan bangsanya dalam waktu yang sangat singkat. Ia pandai menghargai orang dan memberi mereka dorongan. Nehemia datang kepada orang-orang yang merasa kecewa dan merosot semangatnya. Tujuan utamanya ialah membangkitkan harapan dan kemudian memeroleh kerja sama mereka. Hal ini sebagian dilakukannya dengan mengingat kembali kemurahan tangan Allah, yang telah menyertainya dan menyampaikan kepada mereka penglihatan dan keyakinannya kepada Allah. "Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku.

"sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." Yohanes 13:15

Ada perkataan bijak yang berbunyi, “seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang mengetahui suatu jalan, kemudian melangkah ke jalan tersebut dan menunjukkan jalan itu.”Keteladanan dan Kepeloporan, Bukanlah seorang Pengekor.

Dalam segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai - nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika seorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya, maka ia telah menunjukkan kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana dalam soal materi, maka ia tunjukkan kesederhanaan bukan malah kemewahan. pemimpin yang bisa menjadi pelopor dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran.

1. Menjadi teladan melalui perkataan

Dalam Kolose 4:6 ditulis, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Melalui perkataan yang positif dan membangun, kita menjadi teladan yang baik bagi orang lain dan sekaligus menjadi berkat lewat perkataan kita.

2. Menjadi teladan melalui cara hidup

“Orang benar akan hidup oleh iman" (Roma 1:17, Habakuk 2:4). Iman adalah dasar kehidupan umat percaya. Cara hidup dengan iman merupakan teladan yang baik yang dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari ketika menghadapi situasi apapun juga.

3. Menjadi teladan melalui cara kita mengasihi orang lain

Yoh 13:35 menulis, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Kita menjadi saksi Kristus bagi orang lain melalui kasih yang kita nyatakan dalam perbuatan nyata. Perbuatan kasih adalah teladan baik yang perlu kita lakukan karena Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita.

4. Menjadi teladan melalui perbuatan iman

Abraham adalah teladan orang beriman (Roma 4:18-22). Perbuatan imannya nyata ketika ia tetap percaya dan tidak bimbang akan janji Tuhan walaupun tubuhnya sudah sangat lemah, usianya sudah sangat tua dan rahim Sara telah tertutup. Menjadi teladan iman yaitu jika kita hidup dan melakukan perbuatan iman.

"Jadilah seperti bibit yang unggul dan baik,yang senantiasa berakar,bertumbuh dan menghasilkan buah yang baik juga '',dalam kehidupan ini.sikap kita harus bisa menjadi teladan, sehingga kita bisa membawa pengaruh yg baik untuk orang - orang di sekeliling kita.

Minggu, 23 Desember 2012

December 25 is right in the birth of Jesus?

If it's not the time of the birth of Jesus in December, so when yes,,, Concerning the date of Christ's birth, did Jesus born on December 25th? No! There is no one source that refers to the date tersebut.lalu why or where the emergence of the tradition of Christmas is celebrated on December 25? Encyclopedia Britannica 2000 with the topic of 'Christmas' said: "The reason why Christmas to be celebrated on December 25 remains uncertain, but the most likely reason is that those early Christians want the date to coincide with the pagan Roman feast that marks' the day birth of the invincible sun '...; feast day is celebrated on the solstice of winter, where the re-lengthening daylight and the sun began to rise higher in the sky. So, who are the traditional customs connected with Christmas have developed from several sources as a result of the celebration of the birth of Christ with bertepatannya pagan feasts related to agriculture and the sun in the middle of winter. December 25th ... also regarded as the birthday of the god mysterious Iranian nation, named Mithra, the Sun of Truth. " Then if so whether it smells of Christmas celebrations disbelief as alleged by some classes lately? (Note: Some churches refuse to celebrate Christmas because they thought that Christmas comes from pagan tradition). Of course not! It must be remembered that the Christmas celebration that coincides with the pagan celebration that does not mean that Christians worshiped a pagan gods. Instead they just want to keep away from paganism. Notice Herlianto words: "In the year 274, Rome began the celebration of the birthday of the sun on December 25 as the closing festival of the Saturnalia (December 17 to 24) since the end of the winter sun rays began to show on the day. Facing the pagan celebrations, Christians generally left and no longer follow the ceremony, but with the mass Christianization in Constantine, many Roman Christians still celebrate even have followed Christianity. This fact encourages church leaders in Rome to replace a day of celebration 'birth the sun' is a celebration of the 'birth of the Sun of Righteousness "with the intention of diverting the Christians of pagan worship on that date and then change that to celebrate' Christmas. 'In the year 336, the celebration of Christmas began to be celebrated December 25 instead of January 6. This provision was inaugurated emperor Constantine, who was used as a symbol of the Christian king. Christmas Celebration later celebrated in Anthiokia (375), Constantinople (380), and Alexandria (430), and then spread to other places ". "From the facts of history we know that Christmas is not a celebration of the sun god, but church leaders attempt to distract people from the Roman sun god in the Lord Jesus Christ by way of shifting the date of January 6 to December 25, with the intention that Christians no longer follow the Roman pagan ceremony . Christians present there is nothing to link Christmas Day by day the sun god, and on December 25 was no longer binding, because at least in general Christians celebrate Christmas Day on one day in December to January the sake of uniformity. Therefore Encyclopedia Britannica 2000 with the topic 'from church Christmas year' writes: "... the feast of the birth of Christ, the birth of the 'Sun of Righteousness" (Mal 4:2) set in Rome, or perhaps in North Africa, as a rival Christians against pagan feast of solar unbeaten at solstice. ... "Thus the origin of the celebration of Christmas on December 25. there are few historical references from the Bible that can be a reference. (1) Jesus was born in the time of King Herod (Matt. 2:1). If Jesus was born in the days of Herod the king we need this information during the reign of Herod. Flavius ​​Josephus, a Jewish historian provide information that Herod began reigned from 73 to 4 BC (the year of his death). That means that Jesus could not have been born after the year 4 BC for Herod when Jesus was born alive and even Herod wanted to kill him. From this light we can estimate that Jesus was born a few years before the death of Herod (4 BC). (2) Jesus was born at the time of the Emperor Augustus held a census in which Quirinius was governor in the Syrian (Luke 2:1-2). According to Josephus records, a man named Cyrenius was sent to Judea to hold a Syrian and a chronicle sesus at the beginning of BC. The census is part of the clean-up operation after Archelaus (son of Herod the Great) was fired from jabatannya.Peristiwa this happened a few years after Herod's death (years 6-7 M). Seeing this data it is difficult to match with the first reference above, but this explanation can be given for that Luke gives early records of the task that Quirinius (a few years before in 6-7 M), but given the problems of transportation and communication was very difficult at that time the task it only ended in 6 -7 M as recorded by Josephus. (Information: In order to further understand this issue, please see John Drane book "Understanding the New Testament," p. 54-57). (3) Jesus was baptized when he was 30 years old the year of the reign of emperor Tiberius 15 (Lk 3:1). Reign of Emperor Tiberius of Rome officially began in 14 AD so this year is the year to 15 pemerintahnnya 28 M. But actually it has ruled with imperial August since year 11 AD so even though he was officially a new rule in 14 AD (after death in August) but in fact he has been in power since the year 11 AD Maybe once Luke counting to 15 year reign of Tiberius is from years 11 to 15 AD so this year is the year of the reign of Tiberius 25-26 AD If in the year 25-26 AD Jesus was 30 years old, it can be estimated from the time of Jesus' birth here which ranged in 5 or 4 BC. Of all the historical data in general historians and theologians give an account of Jesus's birth in about 8 to 4 BC. Some say Jesus was born around 8-5 BC, there is also estimated in 6-4 BC. tercatatat clear in the Bible that is the time when Zacharias went into the temple and served there. At that time ranged in Siwan (May-June) and taking into account the content of the old Elizabeth and Mary, the birth of Jesus is expected to occur at about the Feast of Tabernacles in the month of Tishri (September-October). This month seems to be more acceptable than in December even though this is not a certainty.Of some of the birth of Jesus has been stated above, it all refers to the time before Christ. The word "Christian" actually has the same root as "Messiah" in Hebrew and "Christ" in Greek. So really the word "Christian" is used in the calculation of the years at the present point to Christ. If we refer to the year 50 BC (Before Christ) means that there is 50 years before the birth of Christ. If we refer to the year 100 CE (AD), the mean was 100 years after the birth of Christ. Certainly something very interesting that the birth of Christ is used as a benchmark calculation in the world. And what about the calculations of the birth of Christ refers to the period before Christ? If we say that Christ was born around 8-5 BC would not that mean that Christ was born about 5-8 years before His birth? Is not this a gaffe? Why did it happen like this?In the 6th century the emperor Justinian gave orders to a man named Dionysius Exegius to create a calendar with the calculation of the solar year (the year of Christ's birth) to change the time that the Roman calendar year based on calculations using the founding of the city of Rome which is usually abbreviated AUC (Ab Urbe condita) . According to calculations in the AUC, the birth of Christ but fell in the year 747 AD the calendar turns in making it Dionisius Exegius make calculation mistakes by placing the birth of Christ in the year 753 AUC resulting in a shortage of about 6 years. (Information: Read the explanation further in the book Happy Christmas garland Andar Ismail, p. 43). This mistake was not corrected because the calendar is published throughout the Roman Empire has been accepted all over the world even in the present (Note: So the calendar that we use today is the work of Dionysius Exegius). Due to these shortcomings that Christ should be according to our era was born in the year 0 (zero) as the central calculation of the years finally shifted approximately 6 years. That is why the calculation of the birth of Christ to be shifted several years of year 0 (zero) so that the historians and researchers placed about 6-4 years BC. And so we present the calculation of the year also decreased by about 6 years. That's some of the reasons for the discrepancy in about the year of Christ's birth.may be useful, God bless.

25 Desember apakah benar bulan kelahiran Yesus?

Kalau memang waktu kelahiran Yesus bukanlah di bulan Desember, jadi kapan iya,,,Menyangkut tanggal kelahiran Kristus, benarkah Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember ? Tidak ! Tidak ada satu sumber pun yang mengacu pada tanggal tersebut.lalu mengapa atau darimana munculnya tradisi Natal yang dirayakan tanggal 25 Desember ini? Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Christmas’ mengatakan : “Alasan mengapa Natal sampai dirayakan pada tanggal 25 Desember tetap tidak pasti, tetapi paling mungkin alasannya adalah bahwa orang-orang Kristen mula-mula ingin tanggal itu bertepatan dengan hari raya kafir Romawi yang menandai ‘hari lahir dari matahari yang tak terkalahkan’ …; hari raya ini merayakan titik balik matahari pada musim dingin, di mana siang hari kembali memanjang dan matahari mulai naik lebih tinggi di langit. Jadi, kebiasaan yang bersifat tradisional yang berhubungan dengan Natal telah berkembang dari beberapa sumber sebagai suatu akibat dari bertepatannya perayaan kelahiran Kristus dengan perayaan kafir yang berhubungan dengan pertanian dan matahari pada pertengahan musim dingin. … Tanggal 25 Desember juga dianggap sebagai hari kelahiran dari dewa misterius bangsa Iran, yang bernama Mithra, sang Surya Kebenaran”. Lalu kalau begitu apakah perayaan Natal ini berbau kekafiran seperti dituduhkan oleh beberapa golongan belakangan ini? (Catatan : Beberapa gereja menolak merayakan Natal karena beranggapan bahwa Natal bersumber dari tradisi kafir). Tentu saja tidak! Harus diingat bahwa perayaan Natal yang bertepatan dengan perayaan kafir itu bukan berarti bahwa umat Kristen waktu itu menyembah dewa-dewa kafir. Sebaliknya justru mereka ingin menjauhkan diri dari kekafiran. Perhatikan kata-kata Herlianto : “Pada tahun 274, di Roma dimulai perayaan hari kelahiran matahari pada tanggal 25 Desember sebagai penutup festival saturnalia (17-24 Desember) karena diakhir musim salju matahari mulai menampakkan sinarnya pada hari itu. Menghadapi perayaan kafir itu, umat Kristen umumnya meninggalkannya dan tidak lagi mengikuti upacara itu, namun dengan adanya kristenisasi masal di masa Konstantin, banyak orang Kristen Roma masih merayakannya sekalipun sudah mengikuti agama Kristen. Kenyataan ini mendorong pimpinan gereja di Roma mengganti hari perayaan ‘kelahiran matahari’ itu menjadi perayaan ‘kelahiran Matahari Kebenaran’ dengan maksud mengalihkan umat Kristen dari ibadat kafir pada tanggal itu dan kemudian menggantinya menjadi perayaan ‘Natal.’ Pada tahun 336, perayaan Natal mulai dirayakan tanggal 25 Desember sebagai pengganti tanggal 6 Januari. Ketentuan ini diresmikan kaisar Konstantin yang saat itu dijadikan lambang raja Kristen. Perayaan Natal kemudian dirayakan di Anthiokia (375), Konstantinopel (380), dan Alexandria (430), kemudian menyebar ke tempat-tempat lain”. “Dari kenyataan sejarah tersebut kita mengetahui bahwa Natal bukanlah perayaan dewa matahari, namun usaha pimpinan gereja untuk mengalihkan umat Roma dari dewa matahari kepada Tuhan Yesus Kristus dengan cara menggeser tanggal 6 Januari menjadi 25 Desember, dengan maksud agar umat Kristen tidak lagi mengikuti upacara kekafiran Romawi. Masa kini umat Kristen tidak ada yang mengkaitkan hari Natal dengan hari dewa matahari, dan tanggal 25 Desember pun tidak lagi mengikat, sebab setidaknya umat Kristen secara umum merayakan hari Natal pada salah satu hari di bulan Desember sampai Januari demi keseragaman. Karenanya Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘from church year Christmas’ menulis : “...hari raya tentang kelahiran Kristus, hari lahir dari ‘surya kebenaran’ (Mal 4:2) ditetapkan di Roma, atau mungkin di Afrika Utara, sebagai suatu saingan Kristen terhadap hari raya kafir dari surya yang tak terkalahkan pada titik balik matahari. …” Demikianlah asal usul perayaan Natal pada tanggal 25 Desember. ada beberapa acuan historis dari Alkitab yang dapat menjadi acuan. (1) Yesus dilahirkan pada zaman raja Herodes (Mat 2:1). Kalau Yesus dilahirkan pada zaman raja Herodes maka kita memerlukan informasi masa pemerintahan Herodes. Flavius Josephus seorang sejarawan Yahudi  memberikan informasi bahwa Herodes mulai memerintah dari tahun 73 hingga tahun 4 SM (tahun kematiannya). Itu berarti bahwa Yesus tidak mungkin lahir setelah tahun 4 SM karena sewaktu Yesus lahir Herodes masih hidup dan bahkan Herodes ingin membunuhnya. Dari terang ini kita bisa memperkirakan bahwa Yesus lahir beberapa tahun sebelum kematian Herodes (tahun 4 SM). (2) Yesus dilahirkan pada saat Kaisar Agustus mengadakan sensus di mana Kirenius menjadi wali negeri di Siria (Luk 2:1-2). Menurut catatan Josephus, seorang bernama Kirenius pernah dikirim ke Siria dan Yudea untuk menyelenggarakan suatu sesus pada permulaan tarikh masehi. Sensus ini merupakan bagian dari operasi pembersihan setelah Arkhelaus (putera Herodes Agung) dipecat dari jabatannya.Peristiwa ini terjadi beberapa tahun setelah Herodes mati (tahun 6-7 M). Melihat data ini rasanya sulit mencocokkannya dengan acuan pertama di atas namun penjelasan dapat diberikan untuk ini bahwa Lukas memberikan catatan awal dari tugas Kirenius itu (beberapa tahun sebelum tahun 6-7 M) namun mengingat masalah transportasi dan komunikasi yang sangat sulit pada waktu itu maka tugas itu baru berakhir pada tahun 6 -7 M seperti yang dicatat oleh Josephus. (Informasi : Untuk memahami lebih jauh masalah ini, silahkan baca buku John Drane “Memahami Perjanjian Baru” hal. 54-57). (3) Yesus dibaptis ketika berumur 30 tahun yakni tahun ke 15 dari pemerintahan kaisar Tiberius (Luk 3:1). Pemerintahan resmi Kaisar Tiberius atas Roma dimulai pada tahun 14 M sehingga tahun ke 15 pemerintahnnya adalah tahun 28 M. Namun sebenarnya ia telah memerintah bersama kaisar Agustus sejak tahun 11 M sehingga meskipun ia secara resmi baru memerintah tahun 14 M (setelah Agustus mati) tetapi sesungguhnya ia telah memegang kekuasaan sejak tahun 11 M. Mungkin sekali Lukas menghitung tahun ke 15 pemerintahan Tiberius ini dari tahun 11 M sehingga tahun ke 15 pemerintahan Tiberius adalah tahun 25-26 M. Kalau pada tahun 25-26 M Yesus berumur 30 tahun, maka dapat diperkirakan waktu kelahiran Yesus dari sini yakni berkisar tahun 5 atau 4 SM. Dari semua data sejarah ini pada umumnya para ahli sejarah dan teolog memberikan perhitungan tahun kelahiran Yesus di sekitar tahun 8 hingga tahun 4 SM. Ada yang berkata Yesus lahir sekitar tahun 8-5 SM, ada juga yang memperkirakan tahun 6-4 SM. tercatatat jelas di Alkitab yakni waktu ketika Zakharia masuk ke Bait Allah dan bertugas di sana. Waktu itu berkisar bulan Siwan (Mei – Juni) dan dengan memperhitungkan lama kandungan Elizabeth dan Maria, maka diperkirakan kelahiran Yesus terjadi pada sekitar Hari Raya Pondok Daun yakni di bulan Tishri (September – Oktober). Bulan ini sepertinya lebih dapat diterima daripada bulan Desember meskipun ini bukanlah suatu kepastian.
Dari beberapa perhitungan tahun kelahiran Yesus yang telah dikemukakan di atas, semuanya mengacu pada masa sebelum Masehi. Kata “Masehi” sesungguhnya mempunyai akar kata yang sama dengan “Mesias” dalam bahasa Ibrani dan “Kristus” dalam bahasa Yunani. Jadi sesungguhnya kata “Masehi” yang dipakai dalam perhitungan tahun-tahun pada masa kini menunjuk pada Kristus. Jika kita menyebut tahun 50 SM (Sebelum Masehi) artinya ada 50 tahun sebelum kelahiran Kristus. Jika kita menyebut tahun 100 M (Masehi) maka maksudnya adalah 100 tahun setelah kelahiran Kristus. Tentu sesuatu yang sangat menarik bahwa tahun kelahiran Kristus dijadikan sebagai patokan perhitungan tahun dalam dunia ini. Lalu bagaimana dengan perhitungan-perhitungan tahun kelahiran Kristus yang mengacu pada masa sebelum Masehi? Jika kita berkata bahwa Kristus dilahirkan sekitar tahun 8-5 sebelum Masehi bukankah itu berarti bahwa Kristus lahir sekitar 5-8 tahun sebelum kelahiran-Nya? Bukankah ini sebuah kejanggalan? Mengapa bisa terjadi seperti ini?
Pada abad 6 kaisar Justinian memberikan perintah kepada seorang yang bernama Dionisius Exegius untuk membuat sebuah kalender dengan perhitungan tahun Masehi (tahun kelahiran Kristus) untuk mengganti kalender Romawi saat itu yang memakai perhitungan tahun berdasarkan tahun berdirinya kota Roma yang biasanya disingkat AUC (Ab Urbe Condita). Menurut perhitungan tahun AUC, kelahiran Kristus jatuh pada tahun 747 namun ternyata dalam pembuatan kalender Masehi itu Dionisius Exegius membuat kekeliruan perhitungan dengan menempatkan kelahiran Kristus pada tahun 753 AUC sehingga terjadi kekurangan sekitar 6 tahun. (Informasi : Baca penjelasannya lebih lanjut dalam buku Selamat Natal karangan Andar Ismail, hal. 43). Kekeliruan ini tidak sempat diperbaiki karena kalender yang dibuat telah dipublikasikan ke seluruh kekaisaran Romawi bahkan sudah diterima seluruh dunia pada masa kini (Catatan : Jadi kalender yang kita pakai sekarang ini adalah hasil karya Dionisius Exegius). Karena kekurangan ini maka Kristus yang seharusnya menurut tarikh Masehi dilahirkan pada tahun 0 (nol) sebagai pusat perhitungan tahun-tahun akhirnya bergeser kira-kira 6 tahun. Itulah sebabnya perhitungan tahun kelahiran Kristus menjadi bergeser beberapa tahun dari tahun 0 (nol) sehingga para sejarawan dan peneliti menempatkannya sekitar tahun 6-4 SM. Dan dengan demikian perhitungan tahun kita saat ini juga berkurang sekitar 6 tahun. itulah beberapa alasan bagi kejanggalan di sekitar tahun kelahiran Kristus.


semoga dapat bermanfaat,Tuhan memberkati.






BIJAKSANALAH HADAPI MASALAH

Bacaan: 1 Raja-raja 3:16-28

Menjadi orang muda memang "ada enaknya dan ada ngak enak". Enaknya, jelasnya karena sebagai orang muda kebanyakan di antara kita ngak terlalu banyak pikiran alias bebas suka hati dan kehendak. Pokoknya hidup bagai tanpa beban. Ngak enaknya, kalo kita ngasih pendapat ke orang tua atau orang yang usianya lebih tua kebanyakan dari kita cuma diketawain dan diremehkan. Itu pun masih mending. Ada yang cuma didiemin, malah ada yang dimarahin.Wah kayaknya kita ini benar-benar anak kecil yang ngak tahu apa-apa. Padahal, ada kalanya saran dan masukan dari anak muda itu juga bisa dipikirkan oleh orang-orang yang lebih tua. Tapi, nyatanya anak muda jarang digubris pendapatnya.
Disisi lain, banyak anak muda juga yang udah mulai ngalami masalah. Entah itu masalah persahabatan, pergaulan dengan lawan jenis, masalah dengan orang tua atau masalah - masalah dengan guru di sekolah dan pelayanan digereja juga masyarakat lainnya. Nah, kalo udah yang kayak gini, lagi-lagi kayaknya yang salah itu, ya anak muda. Padahal, kan juga belum tentu masalah itu timbul dari dia, atau masalah itu ngak bisa diselesaikan oleh anak muda ini. Betul, ngak?Sebagai anak muda yang udah kenal kasih Kristus, kita tentunya bisa menyikapi semua masalah dengan cara lain. Kita ngak harus merenggek agar orang lain membantu kita. Usia kita boleh muda, tapi sikap kita dalam menghadapi masalah bisa jadi malah lebih dewasa dari orang di sekitar kita. Tapi, bukan berarti kita tampil sok tua, gitu ya!

Seperti Raja Salomo, waktu menangani perkara dua wanita yang berebut bayi, umurnya juga masih muda. tapi, memang sejak mudanya Salomo itu sudah dekat dengan Tuhan. Bahkan yang dimintanya dari Tuhan bukan kekayaan atau umur panjang (1 Raja-raja 3:11-12), tapi hikmat agar ia bisa menimbang keputusan sesuai dengan kehendak Allah. Kawan, umur kita boleh muda. Tapi, kita bisa aja belajar bijak menyelesaikan masalah. Hikmat dan kebijaksanaan bukan identik dengan tua, tapi identik dengan kedekatan kita dengan Alah. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat. "Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak; janganlah mengabaikannya."(Amsal 8:33) jadi maukah kita belajar mengendalikan diri kita untuk tidak membesarkan masalah yang sebenarnya kecil menjadi besar karna emosi sesaat yang lalu menghancurkan pekerjaan yang sudah kita kerjakan jadi berantakan.
 

Jumat, 21 Desember 2012

Hari penuh Kegalauan dan syair ini “Praise You in This Storm”


Pagi ini, aku bangun dengan perasaan gelisah dan tak bersemangat. Benar-benar kacau. Yang kupikirkan cuma ketidakmampuanku. Aku tidak tahu bagaimana caranya memberitakan Injil dengan mulut bibirku. Aku tidak pandai melakukan sesuatu, tidak bisa mudah berbaur. Semua yang kulakukan selalu kurang dimata mereka...Aku merasa begitu tidak berguna...

Namun aku tahu, di dalam setiap situasi kita dihadapkan pada dua pilihan. Kita bisa memilih untuk melawan Allah dengan jalan mempertanyakan kehendak-Nya dalam keadaan itu, atau sebaliknya, kita bisa percaya bahwa Dia tahu apa yang terbaik untuk kita dan akan memakai keadaan itu untuk membentuk kita semakin serupa dengan-Nya. Sebagian orang menjadi semakin dekat dengan Allah melalui ujian yang dihadapi mereka, dan aku salah satunya. Ketika aku menyadari bahwa aku tidak bisa mengandalkan kekuatanku sebagai manusia, pada saat itulah aku sadar aku harus mengandalkan kekuatan Allah...

Setelah itu aku naik ke bus untuk berangkat kekampus. Saking penuhnya bus itu, rasanya aku sedang ada dalam sebuah kaleng. Perasaanku tidak membaik saat aku di kampus. Aku merasa seperti sebuah robot yang diprogram cuma untuk menghasilkan apa saja yang diharapkan dari diriku. Tidak ada yang peduli apa yang terjadi padaku atau apa yang sedang kupikirkan. Mereka hanya mau aku melakukan apa yang mereka perintahkan.

Pergumulan ini bukanlah yang pertama. Kegalauan diam-diam menyelinap di hari yang buruk seperti hari ini dan menguasaiku pada saat aku sedang terpuruk. Aku mau dikenal atas apa yang bisa kuberikan, bukan atas apa yang tidak mampu kulakukan. Aku mau meyakini kalau aku ini benar-benar hidup, dan hidupku berarti buat seseorang. Aku mau dicintai, didengarkan dan dianggap sebagai orang yang mampu memberi pengaruh. Aku mau meyakini kalau ada orang yang peduli padaku, dan aku pun berarti buat seseorang. Aku mau meyakini kalau aku benar-benar bisa memberi dampak positif walaupun aku penuh kegagalan dan kelemahan. Aku mau meyakini kalau Allah mau memakai diriku.

Menurut standar dunia ini, jika kita gagal mengerjakan sesuatu, terutama gagal dalam bidang yang kita gemari, maka kita ini pecundang. Tetapi aku tahu lebih dari itu. Hidup bagi kita berarti membangun hubungan kita dengan Allah yang mengasihi kita. Kasih-Nya itu tidak tergantung pada apa yang bisa atau tidak bisa kita lakukan. Yang terindah dari semuanya, kasih Allah itu tidak pernah berubah.

Grup musik Casting Crowns menulis sebuah lagu berjudul “Praise You in This Storm” yang diilhami dari Mazmur 121:1-2, “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Benar, di tengah kegalauan hati, aku masih bisa memuji Allah karena Dialah pertolonganku. Dalam kasih-Nya yang tak berkesudahan, aku mendapat kekuatan baru untuk menghadapi hari demi hari...